Perbedaan Bahasa Betawi Jakarta Dengan Betawi Bekasi

“Et dah ntu bocah, kagak prele pisan dah urusannya. pegawean dikit doang ge, ampe ora kelar-kelar…!!!”(Gawat anak itu, tidak beres urusannya. Pekerjaan sedikit saja sampai tidak bisa selesai…!!!)
Satu lagi pembicaraan khas warga kampung saya yang kembali membuat saya untuk membahasnya. Bukan apa-apa, pembicaraan dengan logat betawi sudah amat sangat jarang terdengar di telinga saya. Sebenarnya ada perasaan bangga ketika bahasa ini masih dipakai oleh beberapa orang di kampung, akan tetapi dengan jumlah penuturnya yang sedikit saya agak khawatir lama kelamaan bahasa ini akan punah. Padahal bahasa ini sangat kaya dengan kosa kata dan kata serapan dari berbagai bahasa sehingga sangat sayang jika sekarang sudah sangat jarang yang menuturkannya. Nah dikarenakan saya adalah seorang warga betawi yang lahir dan besar di kota Cikarang, maka kali ini saya akan coba mengulas sedikit tentang perbedaan antara bahasa betawi kota dengan bahasa betawi ora.
Berbicara masalah kata serapan dari bahasa Betawi ke dalam bahasa Indonesia memang agak sedikit sulit. Hal ini disebabkan karena identitas bahasa Betawi itu sendiri yang pada eksistensinya sudah tercampur dengan banyak bahasa, baik bahasa Jawa, Sunda, bahkan bahasa Asing lain, seperti Belanda, Inggris dan Portugis. Contoh yang bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari adalah seperti contoh berikut ini :
“Gimana din, ntu gawean udah kelar apa belon ?” (Bagaimana din, pekerjaannya sudah selesai atau belum?)
Kata kelar kemungkinan berasal dari B.Inggris “clear”. Menurut para ahli sejarawan dan budayawan, bahasa betawi asli berasal dari masyarakat Betawi sendiri yang dahulu mendiami Kota Jakarta (Batavia) dan kota pelindung Batavia (Jabodetabek), lalu karena banyaknya masyarakat pendatang dari luar kota Jakarta banyak yang menetap, mengakibatkan masyarakat asli betawi bergeser atau berpindah tempat ke pinggiran Jakarta seperti Bekasi, Depok, Tangerang, Karawang, Bogor, dan Banten.
Masyarakat betawi asli yang pindah tersebut membawa bahasa asli betawi, sedangkan masyarakat asli betawi yang masih menetap di Jakarta (Batavia) berubah bahasa dikarenakan terjadi pencampuran antar bahasa dan juga budaya dengan kelompok masyarakat pendatang atau etnis (seperti orang Sunda, Jawa, Bali, Bugis, Makassar, Ambon, dan Melayu serta suku-suku pendatang, seperti Arab, India, Tionghoa, dan Eropa ). Tak heran jika saat ini terdapat perbedaan bahasa atau pengucapan kata serta budaya antara Betawi Jakarta dengan Bekasi.
Masyarakat pada umumnya saat ini banyak yang menyebut atau mengenal Betawi Bekasi dengan sebutan Betawi pinggiran (Betawi Ora), sedangkan yang tinggal di ibu kota Jakarta menyebutnya dengan Betawi pusat. Intinya adalah dari para ahli mengatakan aslinya tidak ada perbedaan antara Betawi Bekasi dengan Jakarta karena mereka satu nenek moyang. Hal yang ingin ditekankan di sini adalah sulitnya untuk meneliti kosakata serapan dari bahasa Betawi ke dalam bahasa Indonesia. Hal tersebut menjadi sulit karena dalam bahasa Betawi sendiri banyak sekali kosakata yang diserap dari bahasa lain. Untuk daerah Bekasi sendiri daerah yang masih menggunakan bahasa Betawi Ora adalah daerah Cikarang, Babelan serta Tambun masih menggunakan logat Betawi Ora, sedangkan yang di Bekasi kota sudah terjadi percampuran Bahasa.
Nah, berikut ini adalah beberapa kata yang saya ambil dari bahasa betawi Cikarang :
1. Bagen = biarkan
2. Nanan = biarkan saja; digabung dengan kata bagen menjadi bagen temenanan (Biarkan saja)
3. Nibla =Loncat
4. Engkong =Kakek
5. Enyak = Ibu
6. Baba = Bapak
7. Tegongan/blekukan = Tikungan
8. Jaro=Pagar dari bambu
9. Gutekan = Area/wilayah
10. Kempek = Tas
11. Bujug = Astaga
12. Ge = Saja
13. Kaga urup = Tidak pantas
14. Ora Danta = Tidak jelas
15. Ora ngoh = Tidak tahu
Para pembaca mungkin bisa menambahkan beberapa kata lagi. Dari sekian banyak kosa kata tersebut mungkin kata Ora danta adalah kata yang paling populer bagi masyarakat betawi. Bagaimana tidak, kata ini menjadi semacam branded bagi kami para penduduk Cikarang. Adapun beberapa kata yang mungkin pengartiannya masih kurang saya pahami adalah kata kilangbara, seperti tercantum pada kalimat dibawah ini :
“Et dah elu mah tong, kilangbara ke maen ke rumah engkong mah bawa besek ama gabus pucung. Nah elu mah kalah minta banda ame gua, kaga urup pisan dah…!”
Sumber :
1. Dimari2. Dimari
Di salin dari : https://rindutanahbasah.wordpress.com/2014/07/21/perbedaan-bahasa-betawi-jakarta-dengan-betawi-bekasi/

Foto Ilustrasi : Istimewa